|
Mengalami pertambahan berat badan saat berusia di atas 50, khususnya di sekitar pinggang, menurut temuan peneliti, secara signifikan meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Dibandingkan orang-orang dengan berat badan stabil setelah usia 50, orang yang mengalami pertambahan berat badan paling banyak setelah usia 50 (lebih dari 10 kilogram) berisiko hampir tiga kali lipat lebih besar mengalami diabetes tipe 2.
"Orang-orang berusia di atas 65 berisiko paling tinggi mengalami diabetes tipe 2. Mereka juga memiliki angka gangguan kesehatan dan kematian terkait penyakit jantung paling tinggi. Penyakit jantung terkait dengan diabetes," terang penulis studi Mary Biggs dari University of Washington, seperti dikutip situs healthday.com, Selasa (22/6).
Temuan ini, lanjut Biggs, menunjukkan adanya hubungan kuat antara pertambahan berat badan dan lingkar pinggang dengan risiko diabetes tipe 2."Sangat penting untuk mempertahankan berat badan optimal saat kita bertambah tua."
|
|
|
Kadar gula manusia kadang terlalu tinggi atau terlalu rendah yang keduanya tidak bagus untuk kesehatan. Kadar gula harus dijaga dalam posisi normal agar tubuh tetap sehat. Bagaimana menjaga agar gula darah tidak tinggi atau rendah?
Gula darah dalam istilah medis dikenal sebagai glukosa. Gula di dalam darah ini diperlukan karena menjadi sumber energi bagi sel-sel tubuh.
Seperti dilansir buzzle, Minggu (4/7/2010) rata-rata tingkat glukosa darah normal pada manusia adalah 70 mg/dl hingga 120 mg/dl dan biasanya akan meningkat setelah makan. Gula darah masih termasuk normal jika setelah makan angkanya masih di bawah 220 mg/dl.
Jika gula darah di bawah 60 mg/dl akan terjadi hipoglikemia atau kadar gula yang rendah. Sebaliknya jika sudah melebihi 225 mg/dl maka akan terjadi hiperglikemia atau gula darah tinggi.
Gula darah yang kelewat rendah bisa bisa menyebabkan orang koma (hilang kesadaran). Tanda-tanda gula darah rendah adalah lelah, fungsi mental yang menurun, perasaan gemetar, berkeringat, perih pada mulut, pusing, perasaan linglung dan jantung berdetak keras hingga kehilangan kesadaran.
Penyebab gula darah rendah biasanya kurang mengonsumsi makanan yang manis, asupan karbohidrat yang kurang, melakukan aktivitas yang berlebihan dan mengonsumsi alkohol tanpa adanya makanan yang masuk ke tubuh.
|
|
Dokter dan petugas kesehatan memiliki kewajiban meluangkan waktu untuk konsultasi bagi penderita diabetes melitus. Sebagai pelayan kesehatan, dokter harus memotivasi para penderita penyakit ini supaya jangan frustrasi sebaliknya mau berobat dan mengubah gaya hidup.
Dokter spesialis penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Luthfan Budi Purnomo menyatakan Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta telah mewajibkan dokter memberikan konsultasi gratis kepada pasien diabetes atau diabetisi.
“Edukasi dasar bagi diabetisi bisa menyadarkan penderita tak salahkan keluarga, dapat informasi yang benar dan mau mengambil keputusan model pengobatan apa yang dipilih, mau dijalankan,” kata dia saat seminar masalah diabes di Asri Medical Center Universitas Muhammadyah Yogyakarta, Minggu (30/5).
|
|
Bila tidak ditangani dengan tepat, penyakit diabetes melitus bisa menyebabkan berbagai komplikasi yang fatal, seperti jantung dan stroke. Bagaimana menghindari komplikasi tersebut?
Angka kejadian penyakit diabetes terus mengalami peningkatan sejalan dengan perubahan gaya hidup, di antaranya konsumsi jenis makanan. Bila diabaikan, penyakit ini juga bisa menyebabkan munculnya penyakit lain, seperti jantung dan stroke. Tak heran bila jumlah penderita stroke pun terus meningkat.
Angka kejadian stroke dunia diperkirakan 200 per 100.000 penduduk dalam setahun. Di negara maju, stroke merupakan penyebab kematian ketiga setelah kanker dan penyakit jantung koroner, akan tetapi merupakan penyebab kecacatan tertinggi. Diperkirakan 500.000 penduduk Amerika Serikat menderita stroke untuk pertama kalinya setiap tahun dan 150.000 orang di antaranya meninggal, di mana frekuensi stroke iskemik adalah 63 persen dan stroke hemoragik 37 persen. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan SKRT 1995, stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan yang utama dan diperkirakan 500.000 penduduk terkena serangan stroke setiap tahunnya.
|
|
Penderita diabetes melitus di Indonesia sejak 2000 mengalami peningkatan dan pada 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta orang, kata pakar ilmu kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Dr Yunani Setyandrian.
"Pada 2000 jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia mencapai 8,4 juta orang. Jumlah itu terus meningkat dan pada 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta orang," katanya di Yogyakarta, Sabtu.
Menurut dia, hal itu menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia yang kebanyakan disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat.
"Diabetes melitus atau kencing manis merupakan penyakit gula yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal akibat tubuh kekurangan insulin," katanya.
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>
|
|
Page 1 of 8 |